Subscribe

RSS Feed (xml)



Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 15 Desember 2008

Gangguan proses keluarga

Dapat dihubungkan dengan:


Krisis situasi, mis. Trauma, ketidakmampuan respons, perubahan peran, kemunduran ekonomi.

Kegagalan untuk menguasai perkembangan transisi

Kemungkinan ditandai oleh:


Ekspresi konfusi tentang apa yang harus dilakukan dan keluarga memiliki kesulitan dalam koping terhadap situasi; kesulitan menerima/memperoleh bantuan yang sesuai.

Tidak beradaptasi terhadap perubahan atau menghadapi pengalaman traumatik secara konstruktif; proses pembuatan keputusan dalam keluarga tidak efektif.

Kesulitan mengekspresikan individu dan /atau perasaan

Sistem keluarga tidak memenuhi kebutuhan fisik, emosi, atau kebutuhan spiritual anggota keluarganya.

Kriteria Hasil

Mengekspresikan perasaan secara bebas dan sesuai.

Mengungkapkan pemahaman trauma, program pengobatan, dan prognosis.

Menunjukkan keterlibatan dalam proses penyesuaian masalah yang diarahkan pada penyeleseaian/solusi yang sesuai dengan situasi.

INTERVENSI

RASIONAL

Mandiri

Tentukan pemahaman anggota keluarga tentang penyakit klien/PTSD.




Identifikasi pola komunikasi dalam keluarga, mis. Apakah semua perasaan diekspresikan secara jelas dan bebas? Apakah anggota keluarga berbicara satu dengan yang lain? Apakah masalah diselesaikan secara adil? Apakah interaksi diantara anggota?


Anjurkan anggota keluarga untuk mengungkapkan perasaan (termasuk marah) tentang perilaku klien.



Akui adanya kesulitan yang dialami setiap anggota keluarga saat menguatkan konflik ini terjadi dan digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan.








Identifikasi dan anjurkan penggunaan perilaku koping yang berhasil sebelumnya.





Anjurkan penggunaan teknik manajemen stres, mis. Ekspresi perasaan secara sesuai, latihan relaksasi, imajinasi terbimbing.



Jelaskan informasi tentang PTSD dan beri kesempatan untuk bertanya/mendiskusikan masalah.



Kolaborasi

Rujuk pada sumber lain sesuai indikasi, mis. Kelompok pendukung, rohaniawan, terapi psikologis/keluarga, konseling perkawinan.


Anggota keluarga dan orang terdekat sering kali tidak mengenali bahwa perilaku yang ditampilkan klien merupakan akibat trauma yang telah terjadi.

Bagaimana anggota keluarga mengomunikasikan, memberi informasi tentang kemampuannya untuk menyelesaikan masalah, saling memahami, kerja sama dalam membuat keputusan, dan menyelesaikan masalah yang disebabkan oleh trauma.

Orang terdekat/pasangan mungkin merasa marah/tidak sayang dan meyakini klien menolak, bukan mengenali perilaku sebagai suatu tanda nyeri klien.

Pengenalan apa yang dirasakan/dilalui seseorang memberi rasa penerimaan. Kebanyakan orang memiliki fantasi bahwa sekali konflik telah diselesaikan, semuanya akan berjalan dengan baik. Diskusi konflik sebagai masalah yang terus ada yang dapat diselesaikan sehingga dapat membantu anggota keluarga mulai mempercayai metode baru dalam menangani masalah yang dapat dipelajari.

Dalam stres pada situasi sekarang, anggota keluarga cenderung berfokus pada perilaku negatif, merasa putus asa, dan mengabaikan melihat perilaku positif yang digunakan pada masa lalu.


Penurunan stres memungkinkan individu untuk mulai berpikir lebih jelas/mengembangkan perilaku koping baru dengan klien.



Materi ini dapat membantu anggota keluarga lebih mempelajari tentang kondisi klien dan membantu dalam penyelesaian krisis saat itu.


Dukungan tambahan/terus-menerus dan/atau terapi mungkin diperlukan untuk membantu keluarga menyelesaikan krisi dan melihat potensi untuk pertumbuhan. Masalah klien memengaruhi orang lain dalam keluarga/hubungan, dan konseling lebih lanjut dapat membantu menyelesaikan masalah perilaku/komunikasi.

Tidak ada komentar: